Yang saat ini ingin aku tuliskan tentang dia hanyalah kutipan singkat dari novel tulisan Tere Liye dibukunya yg berjudul"sepotong Hati yang Baru", dalam tulisan ini sang penulis menuliskan sebuah kata "....ada seseorang dalam hidupmu yang ketika ia pergi, maka ia juga akan membawa sepotong hatimu..."
Labels
- Aneh-aneh (2)
- Belajar nulis (3)
- Catatan Pelajar (6)
- Celotehanku (5)
- Family (2)
- Kisahku (3)
- Pengalaman (2)
- Teman-Teman (3)
Blog List
Rabu, 17 Juli 2013
....Selamat Tinggal....
Senin, 01 Juli 2013
Sebuah Perubahan
Gak cuma itu aja, seringkali keinginan untuk memulai perubahan juga mesti nunggu waktu ulang tahun tiba. "ya Tuhan diulang tahunku yang ke-17 besok, aku akan berubah lebih dewasa, lebih sabar, lebih rajin ibadah, dll." Dan lebih parah lagi kalo niat berubah itu muncul ketika saat pergantian tahun tiba. Mungkin kita terlalu percaya diri kalo Tuhan masih memberikan waktu kita untuk bisa bertemu hari esok.
Minggu, 16 September 2012
Dilarang ganggu!!! Lagi SENSI!!!
Entah kenapa jadi pengangguran itu bawaannya sensitif terus, liat orang pake seragam kerja bawaannya pengen cepet nutup mata pura2 g liat, ketemu orang pengennya ngumpet daripada harus jawab pertanyaan "sekarang kerja dimana?", dapet sms pengennya cepet2 dihapus sebelum baca pertanyaan masalah kerjaan. Hampir semuanya yang dulunya wajar sekarang jadi sesuatu yang bisa bikin mancing emosi. Belum lagi kalo ada orang yang kerjaannya itu memperkeruh suasana yang kalo diibaratkan seperti "ngubek-ubek air comberan". Misalnya saat kita udah jawab "belum kerja, ini masih nyari" kalo golongan orang yang sukanya memperkeruh suasana tadi tanggepannya bakalan melebar sampe ke negara tetangga "kok belum kerja, lowongan kerja kan banyak g nyari2 info di koran apa internet?, "emangnya mau kerja apa, kok blm dapet2?".. Orang tipe kayak gini asyiknya dibungkem pake duid biar diem. Jangan pernah menyepelekan para pengganguran disekitar kamu, karna sebenernya pengalaman mereka itu jauh lebih luas dari apa yang kalian pikir. Saking berpengalamannya para penggangur itu tau segala akses informasi tentang lowongan pekerjaan. G usah sok ngajarin suruh beli koran, karena g usah disuruh pun mereka juga udah jadi langganan harian koran tertentu walopun yang dibaca cuma dibagian info lowongan kerja. Dan g usah nyuruh searching di internet, karena bahkan mereka sampe hafal diluar kepala website tentang lowongan kerja. Apalagi lagi sampe nyuruh mereka ngelamar kerja, karna g perlu disuruh pun disetiap minggunya para penggangur itu punya schedule wajib yaitu test kerja mulai dari psycho test, wawancara, test tertulis, dll. Selain itu agenda wajib lainnya adalah "ngepostin lamaran", disini penggangur perlu muter otak juga buat menjadwal kantor pos mana yang belum dikunjungi biar jgn sampe dihafalin sebagai pengunjung rutin kantor pos tertentu...
Jadi kalopun sekarang banyak orang jadi pengganguran itu bukan karena mereka malas atau g mau berusaha, tapi karena mungkin nasib baik belum bersama mereka atau mungkin sesuatu yang besar itu menunggu waktu yang tepat untuk terjadi.
Jumat, 02 Maret 2012
Mimpi VS Realita
Kita semua harus punya mimpi. Kenapa? karena dengan bermimpi kita telah memberikan energi positif pada diri kita untuk bisa mencapai mimpi itu. Kata2 itu terdengar cukup bijak bukan, tapi sekali lagi itu hanyalah kata bijak yang untuk menjadikanya nyata akan sangat sulit. Dari kecil kita sudah dilatih untuk bermimpi, teringat waktu masih kecil di pelajaran bhs indonesia seringkali guru kita memberikan tugas untuk membuat karangan tentang cita2 dimasa depan. Mungkin cita2 saya waktu itu sama seperti kebanyakan anak Indonesia lainnya, yaitu ingin menjadi dokter, entah kenapa profesi ini memang sangat laris manis dikalangan anak2 dan selanjutnya diikuti peringkat kedua diduduki oleh polisi yang banyak diminati kaum lelaki.
Sekarang aku mulai berfikir apakah dulu aku memang bercita2 ingin menjadi dokter atau krn ikut2an teman? ataukah faktor kepopuleran profesi tersebut yang terkesan menjadi profesi paling keren dikalangan anak2? Tapi anehnya cita2 itu mulai berubah seiring dengan bergantinya waktu. Mimpi dari dokter yang kemudian berubah ingin menjadi pramugari (tiba2 tersadar dengan melihat postur tubuh yang jauh dari kata layak), polwan (lagi2 terhambat karena postur dan ketertarikan pd bidang olahraga, yang slama ini menjadi pelajaran pantangan selama sekolah), perawat (mulai takut ketika harus melihat kenyataan klo g ada penyakit apapun yang terlihat indah), dan entah apa lagi mimpi2 yang tiba2 datang tapi dengan sekejap hilang begitu saja.
Itu semua adalah mimpi diwaktu kecil. Sekarang aku sudah dewasa, yang mulai tau bahwa kehidupan tak semudah waktu kita kecil dulu. Ketika hidup hanya dihabiskan untuk bermain, bermain, dan bermain. Kini aku sudah mulai takut untuk bermimpi. Dan keadaan ini membuatku mulai menjalani kehidupan dengan melihat realita yang ada.
Senin, 27 Februari 2012
Pertanyaan itu tanda tanya
Pertanyaan lanjut dari sekolah, akan bersambung dipertanyaan "Kapan lulus?" Biasanya orang yang paling sensitif dari pertanyaan ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang baru pusing mikir skripsi yang blm kelar2, ditinggal pembimbingnya pergi, skripsinya g dikoreksi2, revisiannya banyak, dan masalah persekripsi-an lainnya.
Kalau sudah lulus, desakan pertanyaan "Kerja dimana?" akan terdengar sebagai kalimat menantang bagi kita. Kita ditantang untuk membuktikan seberapa jauh ilmu kita bisa diaplikasikasikan untuk mengejar sekumpulan materi. Pekerjaan yang layak pun tak cukup untuk menghentikan pertanyaan2 itu. Dengan embel2 kata2 manis dan berputar-putar dari mulai menanyakan siapa teman yang lagi dekat, mereka akan mulai menanyakan"Kapan nikah?" yang sudah barang pasti terus menjejal ditelinga kita. Tiba-tiba saya mulai merasa terganggu dengan pertanyaan2 wajib itu. Pertanyaan2 itu seolah mulai mengatur kehidupan ini untuk segera mengejar deadline kehidupan. Tentu bukan salah mereka, tradisi yang mengatur semua ini. Begitulah cara kita beramah tamah dan mengakrabkan diri. Tapi yang jadi pertanyaan adalah apakah hidup memang harus sesempurna seperti deretan pertanyaan yang seakan harus urut dari point satu ke point selanjutnya? Entahlah.. Biarkan diri kita sendiri yang menentukan jalan hidup kita karena diri kita lebih tau apa yang terbaik untuk diri sendiri.


